Minggu, 06 Maret 2016

Musrembang Perempuan Hasilnya Hebat



Musrembang Perempuan, Hasilnya Hebat

     SEMARANG – Penyertaan perempuan dalam musyawarah rembug pembangunan (Musrembang) memerlukan kebijakan tersendiri. Biasanya kalau campur dengan bapak-bapak, perempuan lebih banyak diam. Jika berembug sesama perempuan dapat menghasilkan pemikiran yang hebat. Demikian dikatakan oleh DR Indra Kertati, Direktur Lembaga Pengkajian dan Pengembangan  Sumberdaya Pembangunan (LPPSP) dalam  acara peningkatan kapasitas dan jaringan kelembagaan masyarakat untuk pengarusutamaan gender (PUG) di Provinsi Jateng,  Selasa (23/2). Acara yang berlangsung di kantor PB3AKB  Jl Pamularsih 28, diikuti 30 anggota Forum Kesetaraan dan Keadilan Gender. 

      Lebih  jauh Dosen FISIP Untag 1945 itu menambahkan PUG perlu dilaksanakan agar laki-laki dan perempuan memperoleh akses sama pada sumber daya pembangunan, berpartisipasi sama termasuk dalam pengambilan keputusan, pengendalian, dan memperoleh manfaat sama dari hasil pembangunan.

     Kemiskinan yang menjadi salah satu sebab kesenjangan gender. Untuk itu Indra Kertati mengatakan perlunya ada kebijakan dasar penangulangan, meliputi antara lain meningkatkan akses perempuan terhadap kesempatan kerja dan berusaha, pendidikan murah dan bermutu, pelayanan kesehatan umum dan reproduksi, serta peningkatan penerimaan manfaat dari program kemiskinan pada khususnya. 

    Belum Optimal
     Sementara itu Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) dalam sambutan yang dibacakan oleh Bambang Puspita, mengatakan, potensi perempuan sebagai sumber daya insani belum dioptimalkan, bahkan sebagian besar masih menjadi beban pembangunan. Data tahun  2014, jumlah penduduk Jawa Tengah 34.930.796.  Terdiri dari perempuan 17.233.478 (49,34%) dan 17.697.318 (50,66%) laki-laki.

      Kesenjangan gender masih banyak  dialami perempuan Jateng, Nampak dari Indek Pembangunan Gender (IPG) 67,97 dengan kompositnya: Usia harapan hidup 70,22 laki-laki dan perempuan 74, 07. Angka melek huruf laki-laki 95,58 dan perempuan 88,01. Rata-rata lama sekolah laki-laki 7,86 dan perempuan 7,03. Untuk Indek Pemderdayaan Gender (IDG) 71, 22 dengan komposit keterlibatan perempuan di parlemen 21,00%, perempuan sebagai tenaga manager profesional admisnitrasi dan teknisi 45,70%, sumbangan perempuan dalam pendapatan kerja 32,99% (humaini)

 Humaini As adalah pengurus Yayasan Kepodang/KKP3A (Koalisi Komunikasi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) Semarang, peserta acara Peningkatan Kapasitas dan Jaringan Kelembagaan  Masyarakat untuk Pengarustamaan Gender (PUG) Jawa Tengah.

     

Menuju Daycare Profesional yang Humanis



Pendidik Harus Murah Senyum dan Menyenangkan Anak

     SEMARANG – “Pendidik harus murah senyum, menjadi sosok yang menyenangkan anak,  bersedia untuk belajar dan selalu tertantang untuk meningkatkan kreativitas,”  demikian dikatakan oleh  Sri Utami Purwaningsih,  dari TPA Pelangi Anak Negeri Yogyakarta, Sabtu (30/1) di Hotel Dalu.
   Di depan peserta workshop “ Menuju Daycare Profesional yang Humanis “ para  pengelola Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain ( TPA  & KB) perbagai daerah di Jateng, Umi Tami, panggilan akrab Utami Purwaningsih menguraikan ciri guru kreatif dan profesional. Singkatan  FORCHILDREN, memudahkan ingatan bahwa guru harus Fleksibel, Optimistis, Respect, Cekatan, Humoris, Inspiratif, Lembut, Disiplin, Responsif,Empatik dan Nge-friend.
“Seberapa megah bangunan TPA KB kalau pendidik tidak mempunyai sifat itu, ya tidak akan berkembang” , katanya. Dari lebih 200 anak yang dipercayakan pada TPA Pelangi Anak Negeri, beberapa diantaranya anak berumur 2 th.

   Anak  Menangis
   Mantan penyiar yang berganti profesi menjadi “pengasuh: anak “ itu memberikan tips menenangkan anak saat emosi TPA - KB adalah mengajak anak ke luar dari lingkungan yang membuatnya prestasi.angkan, tapi kalau perlu dibiarkan menangis sepuasnya , dibiarkan menendang atau menjerit sampai anak merasa tenang. Mengatakan akibat jika anak terus emosi dan menangis. Anak terus diawasi, sdiemangati terus saat anak  berperilaku positip, sambil memberi pujian jika anak kembali masuk kelas.
    Menurut ketua Forum Komunikasi Taman Anak Sejahtera Jateng . Dhany Widjanti, S Psi, makin dibutuhkannya TPA-KB  mendorong diselenggarakannya workshop . Jaringan Forum Komunikasi Taman Penitipan Anak  dan Kelompok Bermain ( FK TPA&KB).  sebagai  wadah/ organisasi pemberdayaan TPA dan KB yang bersifat multisektoral dan forum kerjasama, berkomunikasi secara langsung di tiap kabupaten atau kota.

      Dibentuknya FK TPA&KB didasarkan pada kenyataan luasnya wilayah yang menjadi jangkauan dengan topografi beragam, karaktersitik masalah yang berbeda, ketersediaan sumber daya baik alam, sosial maupun manusia yang berbeda antarwilayah, menjadikan masalah atau hambatan dan tantangan yang dihadapi di tiap wilayah juga berbeda.
     Sisi yang lain, beragamnya institusi yang terlibat dalam pelayanan sosial anak balita merupakan potensi yng harus dikembangkan dan dimanfaatkan optimal untuk kepentingan pelayanan sosial anak.
     Dalam upaya untuk memperkaya informasi dan pengalaman melalui jejaring kerja sama forum komunikasi, diperlukan kerjasama yang sinergis, harmonis, saling melengkapi, sehingga pengembangan pelayanan sosial anak balita yang holistik dan integratif dapat terwujud. (humaini)

tulisan ini juga dinuat di cybernews suara merdeka (Cyber SM) 
Humaini As adalah pengurus dari Forum Taman Anak Sejahtera unsur media